Memasuki lanjut usia merupakan periode akhir dalam rentang kehidupan
manusia di dunia ini. Banyak hal penting yang perlu diperhatikan guna
mempersiapkan memasuki masa lanjut usia dengan sebaik-baiknya. Kisaran
usia yang ada pada periode ini adalah enam puluh tahun ke atas. Ada
beberapa orang yang sudah menginjak usia enam puluh,tetapi
tidak menampakkan gejala-gejala penuaan fisik maupun mental. Oleh
karena itu, usia 65 dianggap sebagai batas awal periode usia lanjut pada
orang yang memiliki kondisi hidup yang baik.
Karakteristik
1. Adanya periode penurunan atau kemunduran. Yang disebabkan oleh faktor fisik dan psikologis.
2.
Perbedaan individu dalam efek penuaan. Ada yang menganggap periode ini
sebagai waktunya untuk bersantai dan ada pula yang mengaggapnya sebagai
hukuman.
3. Ada stereotip-stereotip mengenai usia lanjut. Yang menggambarkan masa tua tidaklah menyenangkan.
4.
Sikap sosial terhadap usia lanjut. Kebanyakan masyarakat menganggap
orang berusia lanjut tidak begitu dibutuhkan karena energinya sudah
melemah. Tetapi, ada juga masyarakat yang masih menghormati orang yang
berusia lanjut terutama yang dianggap berjasa bagi masyarakat sekitar.
5. Mempunyai status kelompok minoritas. Adanya sikap sosial yang negatif tentang usia lanjut.
6. Adanya perubahan peran. Karena tidak dapat bersaing lagi dengan kelompok yang lebih muda.
7. Penyesuaian diri yang buruk. Timbul karena adanya konsep diri yang negatif yang disebabkan oleh sikap sosial yang negatif.
8. Ada keinginan untuk menjadi muda kembali. Mencari segala cara untuk memperlambat penuaan.
Tugas Perkembangan
1.
Menyesuaikan diri terhadap perubahan fisik. Misalnya adanya perubahan
penampilan pada wajah wanita, menggunakan kosmetik untuk menutupi
tanda-tanda penuaan pada wajahnya. Pada bagian tubuh, khususnya pada
kerangka tubuh, mengerasnya tulang sehingga tulang menjadi mengapur dan
mudah retak atau patah.
2. Menyesuaikan diri dengan masa pensiun dan berkurangnya penghasilan keluarga.
3. Menyesuaikan diri dengan kematian pasangan hidup.
4. Menjalin hubungan dengan orang-orang disekitarnya.
5. Membentuk pengaturan kehidupan fisik yang memuaskan.
6. Menyesuaikan diri dengan peran sosial secara luwes dan harmonis.
Perkembangan Fisik
Kebanyakan
perubahan fisik pada lansia mengalami hal yang sama, misalnya rambut
yang memutih, kulit keriput, dan gigi yang tanggal. Pada periode ini
penurunan fungsi organ tampak jelas.
Otak dan sistem syaraf
Sistem
syaraf berubah dengan tanda adanya penurunan kecepatan belajar sesuatu
yang diikiti dengan menurunnya kemampuan intelektual. Beberapa peneliti
memperkirakan 5 sampai 10% neuron akan berhenti tumbuh sampai kita
mencapai usia 70 tahun, setelah itu hilangnya neuron menjadi dipercepat.
Aspek yang signifikan dari proses penuaan adalah pada neuron-neuron
yang tidak mengganti dirinya sendiri yang menyebabkan hilangnya sebagian
kecil kemampuan pada masa dewasa akhir.
Isi Perut
Mengalami
perubahan bentuk karena berhentinya pertumbuhan khususnya ditandai dan
diketahui lewat limpa, hati, alat reproduksi, jantung, paru-paru,
pankreas, dan ginjal. Perubahan yang paling besar terjadi pada jantung
dengan tanda bertambahnya ukuran jantung sesuai dengan bertambahnya usia
dan terus tumbuh bahkan sampai setelah tubuh berhenti bekerja.
Perubahan Fungsi Fisiologis
Berkurangnya
tingkat metabolisme dan menurunnya kekuatan otot-otot juga
mengakibatkan pengaturan suhu badan menjadi sulit. Selain itu, pada usia
lanjut terjadi penurunan dalam jumlah waktu tidur yang diperlukan dan
kenyenyakan tidurnya. Orang usia lanjut pada umumnya menderita gangguan
susah tidur (insomnia). Lalu, perubahan dalam pencernaan mungkin
merupukan perubahan yang paling kelihatan dalam fungsi pengaturan
pencernaan. Kesulitan dalam makan sebagian diakibatkan pada gigi yang
tanggal yang merupakan gejala umum bagi orang usia lanjut dan juga
karena daya penciman dan perasa yang menjadi kurang tajam. Sehingga
menyebabkan jenis makanan yang paling lezat menjadi terasa tidak enak.
Perkembangan sensori
Perubahan
sensori fisik pada masa dewasa akhir melibatkan semua indera pada
manusia. Kebanyakan perubahan mulai terlihat pada dewasa madya tapi
lebih terlihat jelas pada masa dewasa akhir. Pada usia lanjut fungsi
seluruh organ pengindraan kurang mempunyai sensitifitas dan efisiensi
kerja dibandingkan yang dimiliki oleh orang yang lebih muda. Lebih
lanjut lagi, pemakaian kaca mata dan alat bantu dengar hampir secara
sempurna dapat mengatasi kerusukan indera melihat atau kehilangan
pendengaran.
Sistem peredaran darah
Tidak lama berselang
terjadi penurunan jumlah darah yang dipompa oleh jantung dengan
seiringnya pertambahan usia sekalipun pada orang dewasa yang sehat.
Bagaimanapun, kita mengetahui bahwa ketika sakit jantung tidak muncul,
jumlah darah yang dipompa sama tanpa mempertimbangakan usia pada masa
dewasa. Kenyataannya para ahli penuaan berpendapat bahwa jantung yang
sehat dapat menjadi lebih kuat selama kita menua dengan kapasitas
meningkat bukan menurun (Fozard, 1992).
Meningkatnya tekanan darah
yang terjadi akibat bertambah kerasnya dinding pembuluh arteri aorta dan
pusat merupakan gejala umum bagi orang yang berusia lanjut.
Sistem pernafasan
Kapasitas
paru-paru akan menurun pada usia 20 hingga 80 tahun sekalipun tanpa
penyakit. Paru paru kehilangan elatisitasnya, dada menyusut, dan
diafragma melemah. Meskipun begitu, berita baiknya adalah bahwa orang
dewasa lanjut dapat memperbaiki fungsi paru paru dengan latihan-latihan
memperkuat diafragma.
Seksualitas
Penuaan menyebabkan beberapa
perubahan penurunan dalam hal seksualitas manusia, dan terdapat
perubahan yang lebih banyak pada laki laki dari pada perempuan. Rubin
(Harlock,...) mengatakan bahwa hubungan seksual tidak mungkin berhenti
secara otomatis pada usia berapapun. Mereka yang tidak melakukan
hubungan seksual pada usia lanjut, biasanya disebabkan oleh penyakit
yang diderita pasangannya.
Kesehatan
Semakin tua, kemungkinan
terkena beberapa penyakit atau penurunan kondisi tubuh semakin
meningkat. Penyakit yang biasanya menyerang usia lanjut adalah radang
sendi dan osteoporosis.
Perkembangan Kognitif
Fungsi Kognitif
Perdebatan tentang Penurunan Intelegensi
Isu
mengenai penurunan intelektual selama tahun-tahun dewasa merupakan
suatu hal yang provokatif. David Weschler (1972), yang mengembangkan
skala intelegensi Weschler, menyimpulkan bahwa masa dewasa dicirikan
dengan penurunan intelektual karena adanya proses penuaan yang dialami
setiap orang. Namun, menurut Horn (1980) ada beberapa kemampuan yang
menurun (kecerdasan yang mengalir) sementara kemampuan lainnya tidak
(kecerdasan yang mengkristal)
Kecepatan Memproses, Mengingat, Dan Memecahkan Masalah
Sekarang
telah diterima secara luas bahwa kecepatan memproses informasi
mengalami penurunan pada masa dewasa akhir. Ada juga beberapa bukti yang
menunjukkan bahwa orang-orang dewasa lanjut kurang mampu mengeluarkan
kembali informasi yang telah disimpan dalam ingatannya dan secara
efektif menggunakan imajinasi mentalnya di dalam ingatan.
Meskipun
kecepatan memproses informasi kita secara pelan-pelan menurun pada masa
dewasa akhir, namun terdapat variasi individual di dalam kecakapan ini.
Dan ketika penurunan itu terjadi, hal ini tidak secara jelas menunjukkan
pengaruhnya terhadap kehidupan kita di dalam beberapa segi yang
substansial.
Penggantian pengalaman mungkin bisa menjelaskan
bagaimana orang-orang yang lebih tua mempertahankan
keterampilan-keterampilan mereka pada beberapa wilayah-wilayah kognitif,
diantaranya ingatan dan pemecahan masalah. Jika kita mengamati ingatan
dan pemecahan masalah di dalam dunia nyata, kita mungkin menemukan
sedikit penurunan pada masa dewasa akhir.
Pendidikan, Pekerjaan, dan Kesehatan
Pendidikan,
pekerjaan, dan kesehatan adalah tiga komponen yang paling berpengaruh
dalam fungsi kognitif dari orang-orang dewasa lanjut. Pada saat ini
mereka telah memperoleh pendidikan yang lebih baik. Pendidikan memiliki
korelasi positif dengan skor-skor pada tes-tes intelegensi. Orang-orang
dewasa lanjut mungkin melanjutkan pendidikan untuk sejumlah alasan.
Pengalaman
kerja menekankan pada orientasi kognitif. Peningkatan penekanan pada
proses informasi di dalam pekerjaannya mungkin mempertinggi kecakapan
intelektual individu. Sedangkan, kesehatan yang buruk berkaitan dengan
tes-tes intelegensi pada masa dewasa akhir. Olahraga terkait dengan
perbaikan fungsi kognitif diantara orang-rang dewasa usia lanjut.
Fase Penurunan
Hipotesis
fase penurunan (terminal drop hypotesis), yang menyatakan bahwa
kematian didahului oleh suatu pengurangan fungsi kognitif kira-kira pada
suatu periode 5 tahun pertama sebelum kematian. Jadi jarak dari
kematian pada suatu populasi yang kemudian meninggal seharusnya
berkorelasi dengan kemampuan pada tes-tes fungsi kognitif yang diberikan
pada mereka sepanjang periode kritis 5 tahun.
Pada
penelitian-penelitian yang membandingkan orang-orang dewasa lanjut dan
dewasa muda yang mungkin berada pada periode 5 tahun dari kematiannya.
Penyakit-penyakit kronis yang dialami orang-orang dewasa lanjut ini
mungkin dapat menurunkan motivasi, kewaspadaan serta energi untuk
menunjukkan kompetensi mereka ketika menjalankan tes fungsi kognitif.
Kebijaksanaan
Kebijaksanaan
merupakan pengetahuan seseorang ahli mengenai aspek-aspek praktis dari
kehidupan yang memungkinkan munculnya keputusan yang bermutu mengenai
hal-hal yang penting dalam kehidupan. Satu aspek dari kebijaksanaan yang
terlihat meningkat saat orang beranjak tua adalah ia menjadi lebih
fleksibel di dalam mengubah dan mengakomodasi tujuan-tujuan hidup
terhadap keadaan kehidupan yang baru dan kondisi-kondisi pribadi yang
baru (Brandstadter & Renner, 1990). Orang-orang dewasa lanjut
seperti halnya mereka yang lebih muda lebih cenderung mencari kepuasan
dari pada mencari kesenangan yang sukar diperoleh (Dittman-Kohli,1992)
Penalaran Mekanik Dan Penalaran Pragmatis
Penalaran
mekanik merupakan perangkat keras dari pikiran dan merefleksikan
rancangan neurofisiologis dari otak yang berkembang secara evolutif.
Pada tingkat operasional, penalaran kognitif melibatkan kecepatan dan
ketepatan memproses, termasuk masukan sensoris, ingatan visual dan
motorik, pembedaan, perbandingan, dan pengkategorisasian. Karena
pengaruh yang kuat dari faktor biologis, hereditas, dan kesehatan pada
penalaran mekanik, maka penurunan penalaran mekanik menjadi mungkin
seiring dengan proses penuaan.
Sebaliknya penalaran pragmatis
(cognitive pragmatis) merujuk pada dasar kultural ”perangkat lunak” dari
pikiran. Pada tingkat operasional, penalran pragmatis termasuk
keterampilan membaca, menulis, berbahasa, kualifikasi pendidikan,
keterampilan-ketrampilan profesional, dan juga tipe-tipe pengetahuan
mengenai diri dan keterampilan-ketrampilan hidup yang membantu kita
untuk menguasai dan mengatasi kehidupan.
Karena pengaruh yang kuat
dari kebudayaan, terhadap penalaran pragmatis maka peningkatan penalaran
pragmatis pada usia lanjut menjadi mungkin. Penalaran ini akan tetap
meningkat pada usia lanjut meskipun dengan adanya penurunan pada
penalaran mekanik.
Pekerjaan dan Pensiun
Pekerjaan
Pria
lanjut usia biasanya lebih tertarik pada jenis pekerjaan yang statis
daripada pekerjaan yang bersifat menantang,. Akibatnya, mereka lebih
puas pada pekerjaannya daripada orang yang lebih muda. Beberapa orang
tetap mempertahankan produktivitasnya sepanjang kehidupannya.
Orang-orang dewasa lanjut ini mungkin mengikuti agenda pekerjaan yang
melelahkan bagi pekerja yang lebih muda.
Pensiun
Robert Atchley (1976) menggambarkan 7 fase pensiun yaitu:
- Fase jauh (remote). Kebanyakan individu melakukan sesuatu untuk mempersiapkan fase pensiun
- Fase dekat (near), pekerja mulai berpartisipasi dalam program pra-pensiun
-
Fase bulan madu, mereka melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan
sebelumnya dan menikmati aktivitas dengan waktu luang yang lebih banyak.
- Fase kecewa, orang berusia lanjut menyadari bahwa bayangan pra-pensiun mereka tentang fase pensiun tidak realistis.
- Fase reoreientasi, mulai mengembangkan alternatif kehidupan yang lebih realistis
- Fase stabil, sudah memutuskan apa yang mereka pilih dan bagaimana menjalani pilihan tersebut.
- Fase akhir, peran mereka sudah bergantung karena mereka sudah tidak dapat berfungsi secara mandiri.
Kesehatan Mental
Keseahtan
mental tidak hanya dilihat dari ketidakhadiran gangguan-gangguan
mental, berbagai kesulitan dan frustasi, tetapi juga merefleksikan
kemampuan seseorang untuk menghadapi masalah-masalah kehidupan dengan
cara efektif dan memuaskan.
Depresi
Depresi yang dimaksud
adalah suatu gangguan suasana hati dimana individu merasa sangat tidak
bahagia., kehilangan semangat, dan bosan. Orang yang menderita depresi
seperti ini mudah kehilangan stamina, tidak merasa sehat, nafsu makan
kurang, lesu, dan kurang bergairah.
Kecemasan
Gangguan
kecemasan adalah gangguan psikologis yang dicirikan dengan ketegangan
motorik (seperti gelisah dan gemetar), hiperaktivitas (pusing, jantung
berdebar, atau berkeringat), dan pikiran yang mencemaskan. Penelitian
membuktikan bahwa orang usia lanjut memiliki kemungkinan yang lebih
tinggi untuk mengalami gangguan kecemasan daripada depresi (George dkk,
1988)
Perkembangan Sosio-Emosional
Fase Akhir Erikson
Erik
Erikson (1968) memandang tahun-tahun akhir kehidupan merupakan suatu
masa untuk melihat kembali apa yang telah kita lakukan dengan kehidupan
kita. Menurut teori perkembangan psikososial Erikson, periode dewasa
akhir seharusnya telah mencapai integritasnya. Integritas disini
diartikan sebagai satu tahap dimana individu yang berada pada periode
dewasa akhir merasakan dan mengalami kepuasan dalam menjalani
kehidupannya. Jika usia lanjut tidak dapat mencapai integritas maka akan
merasakan keputusasaan, penyesalan terhadap apa yang ia perbuat atau
yang tidak dapat diperbuat selama hidupnya sehingga merasa takut
menghadapi kematian.
Stereotipe pada Orang Usia Lanjut
Orang
berusia lanjut mungkin tidak dipekerjakan untuk pekerjaan yang baru atau
dikeluarkan dari pekerjaan yang lama karena dianggap terlalu kaku.
Mereka mungkin ditolak secara sosial, karena dipandang sudah pikun dan
membosankan. Orang usia lanjut mungkin disingkirkan dari kehidupan
keluarga karena dipandang sebagai sosok yang sakit dan parasit.
Persepsi-persepsi ini memang sangat tidak berkeprimanusiaan, tetapi
seringkali terjadi secara nyata dan menyakitkan.
Kepuasan Hidup
Kepuasan
hidup adalah kesejahteraan psikologis secara umum atau kepuasan
terhadap kehidupan secara keseluruhan. Kepuasan hidup mempengaruhi
kesejahteraan psikologis pada orang dewasa lanjut. Pendapatan,
kesehatan, suatu gaya hidup yang aktif, serta jaringan pertemanan dan
keluarga menjadi faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan hidup
pada usia lanjut.
Partisipasi Sosial
Dengan makin
bertambahnya usia seseorang, maka partisipasi sosialnya semakin
berkurang dan cakupannya juga menyempit. Terdapat banyak alasan mengapa
partisipasi seseorang dalam kegiatan sosial menurun sejalan dengan
bertambahnya usia. Alasan kesehatan menurun, yang secara umum biasa
digunakan alasan pokok.
Kerawanan Sosial (social hazard)
Ada beberapa kerawanan yang khas pada usia lanjut yaitu :
•
Menerima adanya stereotipe tentang usia lanjut yang diberikan
masyarakat. Hal ini membuat para orang usia lanjut merasa inferior.
•
Perasaan tak berdaya dan inferior yang disebabkan oleh perubahan fisik
dan penurunan daya tarik maupun karena perasaan ditolak oleh masyarakat.
• Tidak mau melepaskan atau mengganti gaya hidup yang lama.
•
Menyadari bahwa mereka mulai menjadi pelupa, sulit mempelajari hal-hal
baru lalu menarik diri dari aktifitas-aktifitas yang bersifat
kompetitif.
• Perasaan bersalah karena tidak menyumbangkan tenaga lagi bagi masyarakat.
• Pendapatan yang berkurang mengurangi kesempatan untuk kegiatan-kegiatan diwaktu luang.
• Kurangnya kontak sosial karena kesehatan yang tidak memungkinkan atau keadaan finansial yang terbatas.
PERSPEKTIF ISLAM
Fase
lanjut usia yang dalam islam disebut arzal al-‘umr atau disebut juga
syuyukh, yang berarti fase ketika melewati masa puncak kekuatan fisik
lalu menurun kembali menjadi tidak berdaya. Pada fase ini pula ditandai
dengan menurunnya kemampuan memori sehingga tak mampu lagi mengingat
secara baik berbagai informasi yang ernah diperoleh dan disimpan
sebelumnya.
Tugas perkembangan menurut pandangan Islam:
1.
Terinternalisasi sifat-sifat rasul yang agung, sebab Nabi Muhammad SAW
diangkat menjadi rasul ketika usianya menginjak 40 tahun. Sifat-sifat
yang dimaksud seperti jujur, dapat dipercaya, menyampaikan kebenaran,
dan memiliki kecerdasan spiritual.
2. Meningkatkan kesadaran akan peran sosial dengan niatan amal salih.
3. Meningkatkan ketakwaan dan kedekatan kepada Allah SWT, melalui perluasan diri dengan mengamalkan ibadah-ibadah sunnah.
4. Mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapi kematian.
Pada
fase ini, seseorang terkadang tidak mampu mengaktualisasikan
potensinya, bahkan kesadarannya menurun atau bahkan menghilang. Kondisi
ini disebabkan oleh menuanya syaraf-syaraf dan organ-organ tubuh
lainnya, sehingga terjadilah kepikunan (al-haram).ketika orang berusia
lanjut mengalami kepikunan maka ia terbebas dari tuntutan agama seperti
shalat, puasa, dan ibadah-ibadah lain.
Kesimpulan
Ada pebedaan
perubahan individual yang menonjol sebagai akibat dari usia lanjut,
dengan penuaan yang bersifat fisik mendahului penuaan psikologis yang
merupakan kejadian yang bersifat umum. Perubahan fisik termasuk
perubahan dalam penampilan, perubahan yang berada pada sistem organ
dalam, perubahan dalam fungsi psikologis, perubahan pada sistem syaraf,
perubahan penampilan, dan kemampuan seksual. Perubahan yang bersifat
sangat umum terhadap kemampuan motorik, termasuk perubahan kekuatan
fisik dan kecepatan dalam bergerak, bertambahnya waktu yang diperlukan
untuk belajar keterampilan, konsep dan prinsip baru, dan ada
kecenderungan sikapnya canggung dan kikuk. Sementara itu banyak hal- hal
yang menyebabkan perubahan kemampuan mental, kurangnya rangsangan
lingkungan dan kurang motivasi terhadap kesadaran mental yang ada untuk
membedakan kondisi yang paling bersifat umum dan paling serius.
Pengertian Psikologi Menurut asal katanya, psikologi berasal dari kata Yunani ‘psyche’ yang berarti jiwa dan ogos’ yang berarti ilmu. Jadi secara harfiah psikologi berarti ilmu jiwa.
Selasa, 23 Oktober 2012
dewasa madya
Psikologi Perkembangan: Masa Dewasa Madya
Masa dewasa pertengahan (madya) atau yang disebut juga usia setengah baya dalam terminologi kronologis yaitu pada umumnya berkisar antara usia 40 - 60 tahun, dimana pada usia ini ditandai dengan berbagai perubahan fisik maupun mental (Hurlock,1980:320).Usia pertengahan dipenuhi tanggung jawab berat dan berbagai peran yang menyita waktu dan energi, tanggung jawab serta peran yang dirasa mampu ditanggung oleh sebagian besar Orang dewasa; menjalankan rumah tangga, departemen, atau perusahaan; memiliki anak Dan mungkin memelihara orang tua yang sudah uzur atau memulai karir baru. (Gallagher, 1993; Lachman, 2001; Lachman Lewkowicz, Markus, & Peng, 1994; Merrill & Verbrugge, 1999).
Ciri-ciri
Merupakan periode yang sangat ditakuti
Merupakan masa transisi
Adalah masa stress
Usia yang berbahaya
Usia canggung
Masa berprestasi
Masa evaluasi
Evaluasi dengan standar ganda
Merupakan masa sepi
Merupakan masa jenuh
Tugas Perkembangan Masa Dewasa Madya
Menurut Erikson
Tugas perkembangan yang utama pada usia baya adalah mencapai generatifitas (Erikson, 1982). Generatifitas adalah keinginan untuk merawat dan membimbing orang lain. Dewasa tengah dapat mencapai generatifitas dengan anak-anaknya melalui bimbingan dalam interaksi sosial dengan generasi berikutnya. Jika dewasa tengah gagal mencapai generatifitas akan terjadi stagnasi. Hal ini ditunjukkan dengan perhatian yang berlebihan pada dirinya atau perilaku merusak anak-anaknya dan masyarakat.
Menurut Havighurst,
Tugas perkembangan adalah tugas-tugas yang harus diselesaikan individu pada fase-fase atau periode kehidupan tertentu; dan apabila berhasil mencapainya mereka akan berbahagia, tetapi sebaliknya apabila mereka gagal akan kecewa dan dicela orang tua atau masyarakat dan perkembangan selanjutnya juga akan mengalami kesulitan…
Masa Usia Dewasa Madya
1. Menerima dan menyesuaikan diri terhadap perubahan fisik dan fisiologis
2. Menghubungkan diri sendiri dengan pasangan hidup sebagai individu
3. Membantu anak-anak remaja belajar menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan berbahagia
4. Mencapai dan mempertahankan prestasi yang memuaskan dalam karir pekerjaan
5. Mengembangkan kegiatan-kegiatan pengisi waktu senggang yang dewasa
6. Mencapai tanggung jawab sosial dan warga Negara secara penuh.
7. Menyesuaikan diri dengan orang tua yang telah lansia.
Dinamika Perkembangan Fisik Masa Dewasa Madya
Menurut Hurlock (1980), baik pria maupun wanita selalu terdapat ketakutan, dimana penampilannya pada masa ini akan menghambat kemampuannya untuk mempertahankan pasangan mereka, atau mengurangi daya tarik lawan jenis.
Selain itu, sebuah penelitian dalam Nowark (1977) sebagaimana yang dikutip oleh Jhon F. Santrock (1995), menemukan bahwa perempuan berusia dewasa madya lebih memfokuskan perhatiannya pada daya tarik wajah dari pada perempuan yang lebih muda atau tua.
Dalam penelitian ini, wanita dewasa madya lebih mungkin menganggap tanda-tanda penuaan sebagai pengaruh negatif terhadap penampilan fisiknya.
Adapun beberapa perubahan fisik mulai tampak lebih awan di usia 30 tahun, tetapi pada beberapa titik atau bagian terjadi di usia 40 tahun, menurunnya perkembangan fisik menunjukan bahwa masa dewasa madya telah datang.
Beberapa Perubahan Fisik yang Terjadi pada Masa Dewasa Madya antara lain:
1. Timbulnya Uban.
2. Kulit mulai keriput.
3. Gigi yang menguning.
4. Tubuh semakin lama semakin pendek karena otot-otot melemah.
5. Punggung orang dewasa melemah kerena piringan sendi di tulang belakang mengalami penurunan.
6. Tulang-tulang bergeser lebih dekat antara yang satu dengan yang lainnya, misalnya, seorang laki-laki yang tingginya 5 kaki 10 inci pada usia 30 tahun barang kali akan menjadi 5 kaki 9 7/8 inci di usia 50 tahun, dan mungkin akan menjadi 5 kaki 9 1/4 pada usia 60 tahu.
7. Sulit melihat objek-objek yang dekat. Daya akomondasi mata, kemampuan untuk memfokuskan dan mempertahankan gambar pada retina mengalami penurunan paling tajam pada usia 40 dan 59 tahun.
8. Penurunan pada sensitivitas pendengaran.
9. Menopause. pada usia dewasa madya ini mereka akan mengalami periode menopaose, dimana pada periode ini haid dan kemampuan bereproduksi akan berhenti secara keseluruhan, sehingga dapat menyebabkan gejala yang tidak menyenangkan bagi wanita, seperti hot flushses, mual, letih, dan cepatya denyut jantung. hal ini disebabkan oleh menurunnya produksi hormon estrogen oleh indung telur.
10. Penurunan kebugaran fisik. masalah kesehatan utama pada masa dewasa madya antara lain penyakit kanker, kardivaskuler, dan obesita.
Perkembangan Kognitif
Pada tahap Formal Operasional :
Pada tahap ini perkembangan intelektual dewasa sudah mencapai titik akhir puncaknya yang sama dengan perkembangan tahap sebelumnya (tahap pemuda). Semua hal berikutnya sebenarnya merupakan perluasan, penerapan, dan penghalusan dari pola pemikiran ini.
Orang dewasa mampu memasuki dunia logis yang berlaku secara mutlak dan universal yaitu dunia idealitas paling tinggi.
Orang dewasa dalam menyelesaikan suatu masalah langsung memasuki masalahnya. Ia mampu mencoba beberapa penyelesaian secara konkrit dan dapat melihat akibat langsung dari usaha-usahanya guna menyelesaikan masalah tersebut.
Orang dewasa mampu menyadari keterbatasan baik yang ada pada dirinya (baik fisik maupun kognitif) maupun yang berhubungan dengan realitas di lingkungan hidupnya.
Orang dewasa dalam menyelesaikan masalahnya juga memikirkannya terlebih dahulu secara teoritis. Ia menganalisis masalahnya dengan penyelesaian berbagai hipotesis yang mungkin ada. Atas dasar analisanya ini, orang dewasa lalu membuat suatu strategi penyelesaian secara verbal. Yang kemudian mengajukan pendapat-pendapat tertentu yang sering disebut sebagai proporsi, kemudian mencari sintesa dan relasi antara proporsi yang berbeda-beda tadi.
Penyesuaian Diri Terhadap PerubahanFisik Masa Dewasa madya
penyesuaian diri terhadap perubahan fisik pada masa dewasa madya terasa agak sulit. Hal ini dikarenakan adanya kenyataan bahwa sikap individu yang kurang menguntungkan semakin diintensifkan lagi oleh perilaku sosial yang kurang menyenangkan terhadap perubahan normal yang muncul bersama pada tahun-tahun selanjutnya.
Perubahan fisik yang terjadi pada masa dewasa madya yang menyebabkan individu perlu melakukan penyesusaian padanya, antara lain:
Perubahan dalam penampilan
Perubahan dalam kemampuan indra
Perubahan pada keberfungsian fisiologis
Perubahan pada kesehatan
Perubahan seksual
Daftar Pustaka
Santrock, John W., 2002, Life - Span Develompment (Perkembangan Sepanjang Hidup), Jilid I, Jakarta : Erlangga
B. Hurlock, Elizabeth, 1987, Perkembangan Anak, Jakarta : Erlangga
Papalia, Diane E., Old, Sally Wendkos, & Feldman, Ruth Duskin, 2008, Human Development (Psikologi Perkembangan), Jakarta : Kencana
dewasa dini
. PENDAHULUAN
Setelah
mengalami masa kanak-kanak dan remaja yang panjang, seorang individu
akan mengalami masa dimana ia telah menyelesaikan pertumbuhannya dan
mengharuskan dirinya untuk berkecimpung dengan masyarakat bersama dengan
orang dewasa lainnya. Dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya, masa
dewasa adalah waktu yang paling lama dalam rentang hidup yang ditandai
dengan pembagiannya menjadi 3 fase yaitu; masa dewasa dini, masa dewasa
madya, dan masa dewasa lanjut (usia lanjut).
Masa
dewasa dini biasanya dimulai sejak usia 18 tahun sampai dengan
kira-kira usia 40 tahun dan biasanya ditandai dengan selesainya
pertumbuhan pubertas dan organ kelamin anak telah berkembang dan mampu
berproduksi. Pada masa ini, individu akan mengalami perubahan fisik dan
psikologis tertentu bersamaan dengan masalah-masalah penyesuaian diri
dan harapan-harapan terhadap perubahan tersebut.
B. CIRI-CIRI MASA DEWASA DINI
Masa
dewasa dini adalah masa awal seseorang dalam menyesuaikan diri terhadap
pola-pola kehidupan baru dan harapan-harapan sosial baru. Pada masa
ini, seseorang dituntut untuk memulai kehidupannya memerankan peran
ganda seperti peran sebagai suami/isteri dan peran dalam dunia kerja
(berkarir).
Masa
dewasa dini dikatakan sebagai masa sulit bagi individu karena pada masa
ini seseorang dituntut untuk melepaskan ketergantungannya terhadap
orang tua dan berusaha untuk bias mandiri. Di bawah ini ada 10 ciri-ciri
masa dewasa dini yaitu;
1) Masa Pengaturan (settle down)
Pada
masa ini seseorang akan “mencoba-coba” sebelum ia menentukan mana yang
sesuai, cocok, dan memberi kepuasan permanen. Ketika ia sudah menemukan
pola hidup yang diyakini dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, ia akan
mengembangkan pola-pola prilaku, sikap, dan nilai-nilai yang cenderung
akan menjadi kekhasannya selama sisa hidupnya.
2) Masa Usia Produktif
Dinamakan
sebagai masa produktif karena pada rentang usia ini adalah masa-masa
yang cocok untuk menentukan pasangan hidup, menikah, dan
berproduksi/menghasilkan anak. Pada masa ini organ reproduksi sangat produktif dalam menghasilkan individu baru (anak).
3) Masa Bermasalah
Masa
dewasa dini dikatakan sebagai masa yang sulit dan bermasalah. Hal ini
dikarenakan seseorang harus mengadakan penyesuaian dengan peran barunya
(perkawinan VS pekerjaan). Jika ia tidak bias mengatasinya maka akan menimbulkan masalah. Ada 3 faktor yang membuat masa ini begitu rumit yaitu; Pertama,
individu tersebut kurang siap dalam menghadapi babak baru bagi dirinya
dan tidak bisa menyesuaikan dengan babak/peran baru tersebut. Kedua, karena kurang persiapan maka ia kaget dengan 2 peran/lebih yang harus diembannya secara serempak. Ketiga, ia tidak memperoleh bantuan dari orang tua atau siapapun dalam menyelesaikan masalah.
4) Masa Ketegangan Emosional
Ketika
seseorang berumur duapuluhan (sebelum 30-an), kondisi emosionalnya
tidak terkendali. Ia cenderung labil, resah, dan mudah memberontak. Pada
masa ini juga emosi seseorang sangat bergelora dan mudah tegang. Ia
juga khawatir dengan status dalam pekerjaan yang belum tinggi dan
posisinya yang baru sebagai orang tua. Maka kebanyakan akan tidak
terkendali dan berakhir pada stress bahkan bunuh diri. Namun, ketika
sudah berumur 30-an, seseorang akan cenderung stabil dan tenang dalam
emosi.
5) Masa Keterasingan Sosial
Masa dewasa dini adalah masa dimana seseorang mengalami “krisis isolas”, ia terisolasi atau terasingkan dari kelompok sosial. Kegiatan
social dibatasi karena berbagai tekanan pekerjaan dan keluarga.
Hubungan dengan teman-teman sebaya juga menjadi renggang. Keterasingan
diintensifkan dengan adanya semangat bersaing dan hasrat untuk maju
dalam berkarir.
6) Masa Komitmen
Pada masa ini juga setiap individu mulai sadar akan pentingnya sebuah komitmen. Ia mulai membentuk pola hidup, tanggungjawab, dan komitmen baru.
7) Masa Ketergantungan
Pada
awal masa dewasa dini sampai akhir usia 20-an, seseorang masih punya
ketergantungan pada orang tua atau organisasi/instnasi yang mengikatnya.
8) Masa Perubahan Nilai
Nilai
yang dimiliki seseorang ketika ia berada pada masa dewasa dini berubah
karena pengalaman dan hubungan sosialnya semakin meluas. Nilai sudah
mulai dipandang dengan kaca mata orang dewasa. Nilai-nilai yang berubah
ini dapat meningkatkan kesadaran positif. Alasan kenapa seseorang
berubah nilia-nilainya dalam kehidupan karena agar dapat diterima oleh
kelompoknya yaitu dengan cara mengikuti aturan-aturan yang telah
disepakati. Pada masa ini juga seseorang akan lebih menerima/berpedoman pada nilai konvensional dalam hal keyakinan. Egosentrisme akan berubah menjadi social ketika ia sudah menikah.
9) Masa Penyesuaian Diri dengan Hidup Baru
Ketika
seseorang sudah mencapai masa dewasa berarti ia harus lebih
bertanggungjawab karena pada masa ini ia sudah mempunyai peran ganda. (peran sebagai orang tua dan sebagai pekerja.
10) Masa Kreatif
Dinamakan
sebagai masa kreatif karena pada masa ini seseorang bebas untuk berbuat
apa yang diinginkan. Namun kreatifitas tergantung pada minat, potensi,
dan kesempatan.
C. TUGAS PERKEMBANGAN MASA DEWASA DINI
Pada
masa dewasa dini, banyak sekali harapan-harapan yang ditujukan masyakat
pada mereka yang memang berada pada masa ini. Banyak sekali tugas-tugas
yang harus dikembangkan, dan tingkat penguasaan tugas-tugas ini akan
sangat mempengaruhi tingkat keberhasilan mereka ketika sudah berusia
setengah baya.
Tugas perkembangan masa dewasa dini meliputi:
1. Pekerjaan
Seorang
individu diharapkan sudah mendapatkan suatu pekerjaan yang layak ketika
ia berada pada masa dewasa dini sehingga ia bisa dianggap mampu dan
mempunyai peran atau posisi dalam masyarakat.
2. Pengakuan Sosial
Masa
ini adalah masa dimana seseorang ingin mendapatkan legalitas dan
pengakuan dari masyarakat/kelompok sekitarnya. Ia menerima tanggungjawab
sebagai warga Negara dan akan bergabung dengan komunitas social yang
cocok dengannya.
3. Keluarga
Pada
masa ini seseorang mulai mencari dan memilih pasangan hidup yang cocok,
lalu menikah, mempunyai anak, kemudian membina rumah tangga. Ia
mempunyai peran baru yaitu sebagai orang tua.
D. PERUBAHAN MINAT PADA MASA DEWASA DINI
Seiring
dengan bertambahnya tugas dan tanggungjawab yang harus diemban
seseorang ketika ia sudah menginjak masa dewasa dini, seseorang akan
mengalami pergeseran bahkan pengurangan bobot minat/keinginan terhadap
sesuatu. Hal ini disebabkan karena minat yang sudah ada pada dirinya
sejak masa kanak-kanak atau remaja terkadang sudah tidak sesuai lagi
dengan perannya sebagai orang dewasa selain itu juga bisa disebabkan
oleh minat yang tidak lagi memberi kepuasan seperti semula.
Masa
dewasa dini tidak selalu menghilangkan minat seseorang tetapi juga
dapat membuat bobot pada minat yang dimiliki seseorang bergeser. Ketika
usia bertambah, orang biasanya tidak memperoleh minat baru kecuali bila
ia mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan minat itu.
Ada 3 jenis minat yang dapat dianggap sebagai cirri orang dewasa, antara lain:
v Minat Pribadi; meliputi penampilan, pakaian & perhiasan, status, symbol kedewasaan, uang dan agama.
Ketika
sudah dewasa banyak terjadi perubahan penampilan yang dialami seseorang
seiring dengan perubahan fisiknya. Ia mulai bisa memanfaatkan
penampilan tersebut dan berusaha untuk memperbaiki penampilan. Hal
ini dikarenakan kesadaran bahwa penampilan yang menarik adalah potensi
besar dalam meningkatkan pergaulan. Minat untuk meningkatkan penampilan
mulai berkurang menjelang umur 30-an ketika ketegangan dalam pekerjaan
dan rumah tangga terasa kuat.
Walaupun usia semakin bertambah namun minat terhadap pakaian dan perhiasan juga ikut bertambah. Hal ini berhubungan dengan prestise dan nilai seseorang dalam pergaulan.
Status
adalah tanda-tanda tertentu yang membedakan seseorang dengan orang
lain. Symbol status dapat berupa mobil, rumah dan harta benda laiinya
yang dapat mempengaruhi tinggi rendahnya status seseorang dan dipandang
sebagai bukti keberhasilan ekonomi. Orang dewasa dini biasanya berusaha
menaikkan statusnya dengan cara memiliki simbol-simbol status seperti
yang diterangkan di atas.
Orang-orang dewasa beranggapan bahwa uang dapat memenuhi kebutuhan hidup saat ini. Maka ia akan berusaha untuk memiliki banyak uang.
v Minat Rekreasional;
Pada
masa remaja bahkan kanak-kanak, orang berekreasi hanya sekedar
ikut-ikutan atau diajak orang lain/keluarga dan hanya berfungsi untuk
bermain. Namun pada masa dewasa apalagi jika sudah menjadi orang tua,
orientasi dari rekreasi tersebut adalah untuk menghilangkan kepenatan
setelah lama bekerja.
Rekreasi bisa berupa berbincang-bincang, bertamasya, berolahraga, hiburan, atau sekedar menyalurkan hobi.
v Minat Sosial
Seperti
telah dijelaskan di awal bahwa masa dewasa dini adalah masa
keterasingan sosial dimana seseorang (suami/isteri) akan merasa sepi
karena mereka kehilangan masa pergaulan yang menyenangkan ketika remaja.
Umumnya pergaulan dan kegiatan mereka lebih terpusat pada keluarga.
Peran anggota keluarga menggantikan peran teman. Mereka harus bisa
mencari penyelesaiannya dan berupaya untuk menjalin tali persahabatan
baru dengan lingkungan barunya.
Namun
pada akhir tigapuluhan atau pertengahan empatpuluhan, mereka sudah
mempunyai banyak teman karean umumnya minat social mereka sudah
berkembang dan stabil.
Pada masa dewasa, minat pribadi akan semakin berkurang dan minat sosial akan semakin bertambah.
E. MOBILITAS SOSIAL PADA MASA DEWASA DINI
Ada dua macam mobilitas yang berperan penting pada masa dewasa dini yaitu mobilitas geografis dan mobilitas sosial.
Mobilitas
geografis berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan alas an
pekerjaan. Mobilitas sosial berarti berpindah dari satu kelompok social
ke kelompok sosial lain baik pada tingkat yang sama, yang lebih tinggi,
atau lebih rendah. Umumnya, orang muda ingin berpindah ke mobilitas
sosial yang lebih tinggi maka ia akan berusaha meningkatkan tangga
social tersebut dengan meningkatkan popularitas dan berperan dalam
kepemimpinan, meningkatkan pendidikan, lulus perguruan tinggi bergengsi,
dan berperan serta aktif dalam kegiatan masyrakat golongan atas. Daya
tarik fisik adalah modal utama perempuan dalam meningkatkan mobilitas
sosial sedangkan laki-laki adalah pendidikan tinggi untuk mencapai
mobilitas sosial yang tinggi pula.
F. PENYESUAIAN PERAN SEKS PADA MASA DEWASA DINI
Penyesuain
peran seks pada masa dewasa dini sangatlah sulit. Ketika masa remaja,
laki-laki dan perempuan menyadari akan peran peraturan dan peran seks
yang direstui oleh masyarakat, tetapi ketika mereka telah dewasa,
biasanya peraturan dan peran seks tersebut tidak bisa diterima
sepenuhnya.
Pada
konsep tradisional, peran seks lebih dominant untuk kaum pria. Ketika
sudah menikah biasanya laki-laki menduduki posisi yang paling tinggi dan
berwenang dalam mengambil keputusan. Sedangkan perempuan tidak
diharapkan bekerja di luat rumah tetapi hanya mengurus anak-anak di
dalam rumah.
Berbeda
dengan konsep egalitarian yang menjunjung tinggi persamaan derajat
antara pria dan wanita. Setiap laki-laki atau perempuan, suami-isteri
mempunyai porsi yang sama dan mempunyai kesempatan yang sama dalam
mengaktualisasikan potensinya.
Konsep persamaan hak ini dapat diterima oleh semua kelompok sosial termasuk kelompok tradisional.
G. BAHAYA PERSONAL DAN SOSIAL PADA MASA DEWASA DINI
Seseorang
terlihat belum matang pada usia dini diakibatkan oleh kegagalannya
dalam menguasai beberapa atau sebagian besar dari tugas perkembangan
yang penting pada masa dewasa dini.
Kegagalan dalam menguasai tugas perkembangan masa dewasa dini dapat mempengaruhi penyesuaian pribadi dan sosial seseorang.
Mereka akan selalu merasa kecewa dan tidak puas dengan apa yang
dimiliki dibandingkan dengan orang dewasa seusianya. Beberapa bahaya
personal dan sosial pada masa dewasa dini diantaranya;
ü Bahaya Fisik
Bahaya
fisik yang paling penting dan paling umum dalam masa dewasa dini adalah
bentuk fisik dan penampilan yang kurang menarik yang mempersulit
penyesuaian diri pribadi dengan kehidupan sosial.
ü Bahaya Sosial dan Bahaya Peran Seks
Mendapatkan
suatu kelompok sosial tempat mengidentifikasi diri khususnya dalam
mobilitas sosial dan penerimaan peran seks tradisional merupakan
hambatan kejiwaan yang harus ditanggulangi setiap orang dalam kehidupan
pribadi dan sosial mereka.
H. KESIMPULAN
Masa
dewasa dini adalah masa terpanjang setelah masa kanak-kanak dan masa
remaja. Masa ini adalah masa dimana seseorang harus melepaskan
ketergantungannya dari orang tua dan mulai belajar madiri karena ia
sudah mempunyai peran dan tugas-tugasnya yang baru.
Tugas-tugas
perkembangan pada masa dewasa dini jika tidak dioptimalkan dengan baik
akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri di masa yang akan datang. Perubahan minat, mobilitas sosial, dan penyesuaian peran seks pada masa ini juga sangat berpengaruh bagi tiap individu.
Bahaya
personal dan sosial sering diakibatkan oleh ketidak matangan seseorang
pada masa ini yang ditandai dengan kegagalannya dalam menjalankan
tugas-tugas perkembangan pada masa dewasa dini.
REFERENSI:
Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan, Jakarta: Erlangga. 1980.
Kamis, 18 Oktober 2012
mikroteaching
Nama : Lia Gustina Ais
NPM
: 10110117/ Bk V C
Tugas
Matakuliah Mikroteaching
Guru (tenaga pendidik) yang
efektif adalah mereka yang berhasil membawa peserta didik mencapai tujuan
pembelajaran sesuai dengan kaidah yang berlaku dalam pendidikan. Keberhasilan
pembelajaran yang efektif memuat dua tolok ukur yakni tercapainya tujuan dan
hasil pembelajaran. Untuk mencapai tingkat efektifitas pembelajaran, Gadik
harus menguasai berbagai ketrampilan dasar pembelajaran yang meliputi
ketrampilan membuka dan menutup proses pembelajaran, ketrampilan menjelaskan,
ketrampilan bertanya, ketrampilan menggunakan variasi, ketrampilan memberi
penguatan, ketrampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan, ketrampilan
mengelola kelas dan ketrampilan membimbing diskusi kecil.
Untuk dapat menguasai berbagai ketrampilan dasar pengajaran dan pembelajaran
tersebut maka Gadik perlu berlatih satu demi satu ketrampilan tersebut agar
mendalami makna dan strategi penggu-naannya
pada proses pembelajaran. Ketrampilan dasar mengajar
dapat diperoleh melalui pembelajaran mikro atau micro teaching. Oleh
karena itu pembelajaran mikro sangat diperlukan dalam bentuk peer
teaching dengan harapan agar para gadik dapat sekaligus menjadi observer
temannya sesama gadik, dengan harapan masing-masing gadik dapat saling
memberikan koreksi dan masukan untuk memperbaiki kekurangan penguasaan
ketram-pilan dasar dalam mengajar.
Pengajaran
mikro telah dipraktikkan secara meluas dalam latihan keguruan di
seluruh dunia sejak diperkenalkan di Stanford University oleh Dwight W.
Allen, Robert Bush dan Kim Romney pada tahun 1950-an. Untuk dapat memahami micro
teaching atau pembelajaran mikro bagi calon gadik, dikemukakan beberapa
asumsi dasar yaitu:
1. Pada umumnya guru tidak dilahirkan tetapi
dibentuk terlebih dahulu.
2. Keberhasilan seseorang menguasai hal-hal yang
lebih kompleks ditentukan oleh keberhasilannya menguasai hal-hal yang lebih
sederhana sifatnya. Dengan terlebih dahulu menguasai berbagai ketrampilan
dasar mengajar, maka akan dapat dilaksanakan kegiatan mengajar secara
keseluruhan yang bersifat kompleks.
3. Dengan menyederhanakan situasi latihan maka
perhatian dapat dilakukan sepenuhnya kepada pembinaan ketrampilan tertentu
yang merupakan komponen kegiatan mengajar.
4. Dalam latihan-latihan yang sangat terbatas,
calon guru lebih mudah mengontrol tingkah lakunya jika dibandingkan dengan
mengajar secara global yang bersifat kompleks.
5. Dengan penyederhanaan situasi latihan,
diharapkan akan memudahkan observasi yang lebih sistematis, obyektif serta
pencatatan yang lebih teliti. Hasil dari observasi ini diharapkan dapat
digunakan sebagi balikan calon guru tentang kekurangan yang dilakukan dan
segera diketahui yang selanjutnya akan diperbaiki pada kesempatan latihan
berikutnya.
Merujuk pada
beberapa asumsi dasar pengajaran mikro dapat dikemukakan beberapa pengertian
pengajaran mikro sebagai berikut:
1. Pengajaran mikro dirumuskan sebagai pengajaran dalam
skala kecil atau mikro yang dirancang untuk mengembangkan ketrampilan baru
dan memperbaiki ketrampilan yang lama.
2. Pengajaran mikro adalah meto-de latihan yang
dirancang sedemikian rupa dengan jalan mengisolasi bagian-bagian komponen
dari proses pengajaran sehingga calon gadik dapat menguasai ketrampilan satu
per satu dalam situasi mengajar yang disederhanakan.
3. Micro teaching is effective method of learning
to teach, oleh sebab itu micro teaching sama dengan teaching to teach dan
atau learning to teach.
4. Mengikut Micheel J Wallace pengajaran mikro
merupakan pengajaran yang disederhana-kan. Situasi pengajaran telah dikurangi
lingkupnya, tugas guru dipermudah, mata pelajaran dipendekkan dan jumlah
peserta didik dikecilkan.
Berpijak pada asumsi dasar dan pengertian pengajaran
mikro tersebut, maka dapat disampaikan beberapa ciri pengajaran mikro:
1. Mikro dalam pengajaran mikro berarti pada
skala kecil. Skala kecil berkaitan dengan ruang lingkup materi pelajaran,
waktu, siswanya dan ketrampilannya.
2. Mikro dalam pengajaran dimak-nai sebagai
bagian dari ketram-pilan mengajar yang kompleks akan dipelajari lebih mendal
am dan teliti bagian demi
bagian.
3. Pengajaran mikro adalah pengajaran yang
sebenarnya. Calon gadik harus membuat persiapan pembelajaran, rencana
pem-belajaran, melaksanakan pembelajaran sesuai dengan rencana pembelajaran
yang telah dibuat, mengelola kelas dan menyiapkan perangkat pembelajaran
lainnya yang dapat mendukung proses belajar dan mengajar (PBM).
4. Pengajaran mikro pada hakekatnya adalah
belajar yang sebenarnya. Ditinjau dari praktikan, calon gadik akan belajar
bagaimana melakukan pembelajaran sedangkan teman yang jadi siswa akan dapat
merasakan bagaimana gaya mengajar temannya dirasakan tepat dan tidaknya
strategi pembelajaran yang dibuat.
5. Pengajaran mikro bukanlah simulasi. Dalam
situasi menga-jar teman sejawat, mereka tidak diperlakukan sebagaimana siswa
didik akan tetapi mereka tetap menjadi teman yang sebenarnya dengan kedudukan
sebagai siswa. Hal ini untuk menghindari perilaku teman sejawat yang
dibuat-buat yang mengakibatkan tidak terkondisikan proses pembelajaran antar
teman sejawat.
6. Pengajaran diharapkan dapat direkam sehingga
hasil rekaman tersebut dapat dijadikan bahan diskusi antar teman untuk
dikoreksi dan diberikan masukan guna perbaikan atas kekurangan praktikan
gadik.
Pengajaran mikro bertujuan membekali gadik beberapa
ketrampilan dasar mengajar dan pembelajaran. Bagi calon gadik metode ini akan
memberi pengalaman mengajar yang nyata dan latihan sejumlah ketrampilan dasar
mengajar secara terpisah. Sedangkan bagi calon gadik dapat mengembangkan
ketrampilan dasar mengajarnya sebelum mereka melaksanakan tugas sebagai
gadik. Memberikan kemungkinan calon gadik untuk mendapatkan bermacam
ketrampilan dasar mengajar serta memahami kapan dan bagaimana menerapkan
dalam program pembelajaran.
Bagi supervisor calon gadik, metode ini akan memberikan
penyegaran dalam program pendidikan. Gadik mendapatkan pengalaman mengajar
pada calon gadik yang bersifat individual demi perkembangan profesi.
Ketrampilan dasar mengajar.
Sebagai gadik, penguasaan ketrampilan dasar mengajar
menjadi salah satu persyaratan utama dalam proses pembelajaran disamping
persyaratan yang lain. Ketrampilan dasar yang akan dipelajari adalah:
1. Ketrampilan membuka dan menutup
pembelajaran. Membuka pelajaran merupakan kegiatan gadik dalam mempersiapkan
peserta didik untuk mengikuti pembela-jaran yang meliputi; kondisi
menciptakan suasana siap mental peserta didik, menciptakan suasana
komunikatif antara gadik dengan peserta didik, menimbulkan perhatian peserta
didik kepada apa yang akan dipelajari dalam hal ini dapat diawali dari
situasi keseharian peserta didik sampai pada materi yang akan dipelajari.
Menutup pelajaran merupakan kegiatan gadik mengakhiri kegiatan inti
penga-jaran. Dalam mengakhiri pelajaran ini, kegiatan yang dilakukan adalah
memberikan gambaran menyeluruh semua materi yang telah dipelajari, mengetahui
tingkat penyerapan siswa terhadap materi dan mengetahui tingkat keberhasilan
gadik dalam proses belajar mengajar.
2. Ketrampilan menjelaskan di-maknai
sebagai ketrampilan gadik menyajikan informasi lisan yang diorganisasikan
secara sistematis dengan tujuan dapat menunjukkan hubu-ngan antar materi yang
telah dikumpulkan dan dikuasai serta disiapkan untuk disajikan. Selain dari
itu penekanan memberikan pen-jelasan merupakan proses penalaran peserta didik
dan bukan indoktrinasi.
3. Ketrampilan bertanya adalah ucapan
gadik secara verbal yang meminta respon dari peserta didik. Respon yang
diberikan dapat berupa pengetahuan sampai dengan hal-hal yang merupakan hasil
pertimba-ngan. Dengan demikian bertanya merupakan stimulus efektif yang
mendorong kemampuan berpikir peserta didik.
4. Ketrampilan menggunakan va-riasi
diartikan sebagai perbuatan gadik dalam konteks proses bela-jar mengajar yang
be
rtujuan menga-tasi kebosanan peserta didik sehing-ga
dalam proses belajar mengajar, peserta didik senantiasa menunjuk-kan
ketekunan, keantusiasan serta berperan serta secara aktif.
5. Ketrampilan memberi pengua-tan
merupakan tingkah laku gadik dalam merespon secara positif suatu tingkah laku
tertentu peserta didik yang memungkinkan tingkah laku tersebut terulang
kembali.
6. Ketrampilan mengajar kelom-pok
kecil dan perorangan diartikan sebagai tindakan gadik dalam konteks proses
belajar mengajar yang hanya melayani 3 – 8 orang peserta.
7. Ketrampilan mengelola kelas
merupakan ketrampilan gadik men-ciptakan dan memelihara kondisi belajar yang
optimal dan mengem-balikannya ke kondisi optimal jika terjadi yang
dimungkinkan dapat mengganggu kegiatan, baik dengan cara mendisiplinkan
ataupun mela-kukan kegiatan remedial.
8. Ketrampilan membimbing dis-kusi
kelompok kecil adalah suatu proses yang teratur dengan melibatkan sekelompok
peserta didik dalam interaksi tatap muka kooperatif yang optimal dengan
tujuan berbagai informasi atau pengalaman mengambil keputusan atau memecahkan
suatu masalah.
Skenario Pengajaran Mikro
Skenario
pengajaran mikro dibuat dan dirancang langkah demi langkah. Hal ini agar
dapat menjadi rambu-rambu dalam pelaksanaannya untuk menghindari dan
mengantisipasi hal-hal yang dapat mengganggu jalannya pengajaran mikro.
Secara garis besar skenario kegiatan pengajaran mikro dapat dikelompokkan
dalam tiga tahapan yaitu:
1. Tahap pertama (tahap kognitif).
Tahap pertama
diharapkan praktikan sudah terbimbing memahami dan mendalami serta gambaran
secara umum konsep dan makna ketrampilan dasar mengajar dalam proses belajar
mengajar, menggunakan secara tepat, mensinergikan ketrampilan satu dan
lainnya serta ketepatan kapan dan dalam kondisi yang bagaimana ketrampilan
satu dan lainnya digunakan. Selain dari itu diharapkan praktikan dapat
mensinergikan pengeta-huan mereka untuk digunakan pada realita pengajaran
yang dipadukan dengan ketrampilan dasar mengajar.
2. Tahap kedua ini diharapkan praktikan
secara nyata mempraktekan ketrampilan dasar mengajar secara berulang, dengan
harapan jika praktikan sudah berulang kali melakukan praktek akan mengetahui
kekurangannya pada ketrampilan yang mereka belajar untuk dikuasai dan
terampil menggunakannya dalam proses belajar mengajar. Pada tahapan ini
praktikan sudah dapat mempersiapkan perangkat pembelajaran mulai dari RPP,
media yang akan digunakan dan segala sesuatu yang dipersyaratkan bagi
guru/gadik yang profesional di masa mendatang.
3.
Tahap ketiga (tahap balikan).
Tahap ketiga ini
merupakan kilas balik praktikan dengan mem-pelajari hasil dari observasi
teman sejawat yang akan memberikan informasi setelah melihat secara langsung
pelaksanaan kegiatan mengajar praktikan. Para rekan sejawat akan memberikan
penilaian berkaitan dengan kelebihan dan kekurangan praktikan yang
selanjutnya akan didiskusikan dan sebagai bahan untuk memperbaiki kinerja
sebagai gadik yang profesional.
|
Materi Kegiatan
Ada sepuluh ketrampilan
khusus yang dapat dilatih dalam micro teaching yang kesemuanya itu merupakan
dalam sebuah proses belajar mengajar.
Keteampilan khusus itu
meliputi:
1.
Ketrampilan membuka pelajaran
2.
Keteampilan memberi motivasi
3.
Ketrampilan bertanya
4.
Ketrampilan menerangkan
5.
Ketrampilan mendayagunakan media
6.
Ketrampilan menggunakan metode yang tepat
7.
Ketrampilan mengadakan interaksi
8.
Ketrampilan penampilan verbal dan non verbal
9.
Ketrampilan penjajagan/assesment.
10. Ketrampilan menutup
pelajaran.
Langganan:
Postingan (Atom)